November Menunggu

Gambar dari Google

Sekarang sudah memasuki bulan November, bulan ke Sebelas di kalender masehi. Menurut buku berwarna pink yang Umi miliki saat ini, HTP (Hari Taksiran Persalinan) Umi Insya Allah jatuh pada Tanggal 08 November 2013. Subhanallah, ini baru yang namanya sesuatu, hehehe.Tak ayal buat saya, Umi dan keluarga besar lainnya, bulan Sebelas adalah bulan penuh kebahagiaan # Amin.

Setelah beberapa hari kemarin, kami [saya dan Umi] merayakan 1ST Anniversary. Selanjutnya kami sibuk melirik kalender setiap pagi. Alasannya karena sudah memasuki bulan Sebelas, itu artinya sebentar lagi akan ada suara tangisan seorang anak mungil, lucu dan unyu-unyu ditengah keluarga kami.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 30 Oktober 2013, saya dan Umi pergi ke sebuah rumah sakit swasta di tempat kami guna melihat dan mengecek keberadaan bayi yang sedang Umi kandung. Seperti menunggu sebuah berita, saya melihat Umi begitu gelisah, karena dokter yang kami harapkan tidak segera kunjung tiba. Padahal waktu yang telah ditentukan sesuai dengan surat pengantar dari kantor, tapi tetap aja molor. Hmmm... sekitar 1 Jam lebih kami menunggu dokter yang bergelar SpOg tersebut.

Eng..ing..eng..tepat pukul 14.30, dokter yang kami tunggu tiba dengan memberikan senyuman manis kepada kami, "sudah dari tadi, Mas ?". "Hadeehh, andai saja saya gak butuh, sudah dari tadi kami pulang, wes ngantuk, wetheng wes lue iki, Dok" ketus saya dalam hati. 

Tanpa basa basi dokter dan 2 asistennya langsung memeriksa kandungan Umi. "Wah sepertinya anak sampean Laki-laki, Mas", kata salah satu asisten dokter itu. Saya hanya diam, dan pandangan saya tertuju pada salah satu alat yang ada didalam ruangan tersebut. "Apakah ini yang di namakan USG, ooo seperti komputer, toh" gumam saya dalam hati.

Gambar dari Google

Teeetttt.......
Alat USG mulai di hidupkan si Dokter pun mulai bereaksi. "Hmm..posisi janin bagus, wah bayinya gedhe dan sehat" kata dokter sambil mengoprasikan alat USG tersebut. "Awas jangan dekat-dekat, Mas, hehehe" si Dokter memperingati sambil bercanda karena saya melihatnya spaneng (serius). "Sekarang ingin tahu jenis kalaminnya nggak ?" tanya dokter pada saya. "Ya, Dok" jawab saya. "Hmm jenis kelaminnya laki-laki", selang beberapa saat "ehh perempuan" kata dokter kepada kami.

Memang kata sebagian banyak orang, hasil USG tidak bisa di jadikan patokan mengetahui jenis kelamin. Banyak sekali yang keliru, ketika di USG kelaminnya perempuan, eh setelah lahiran malah laki-laki. Kesimpulannya biarlah Yang Maha Pemberi yang menetukan, laki-laki atau perempuan yang penting sehat, selamat dan sholeh/sholehah itulah harapan kami.

Akhirrnya, rasa lapar dan haus kami terobati dengan kabar gembira dari dokter. "Insya Allah 2 minggu lagi Istri Anda akan melahirkan" kata dokter tersebut. Brrrr,,, rasanya seolah-olah minum es teh mendengar berita tersebut, maklum kami yang memang saat itu sedang kahausan dan lapar karena menunggu dokter tersebut. Saking haus dan laparnya kami, setelah di kasih oret-oretan sama dokter, kami langsung bablas pulang dan mampir kesebuah warung soto dekat rumah. Kami tidak membaca dulu isi oret-oretan tersebut, padahal oret-oretan tersebut berisi resep obat untuk Umi, hahaha. Yo wes, keesokan harinya resep tersebut kami ambil meski melalui pak Mantri Kebun, hehehe. 

1ST Anniversary [27 Oktober 2012]


27 Oktober 2012 perjalanan kami berdua bermula. Alhamdulillah, sudah 1 tahun perjalanan bahtera keluarga mungil saya dan Umi berjalan. Banyak sekali lika liku, rintangan dan hambatan yang harus kami lalui bersama. Semuanya butuh kesabaran dan ketabahan dalam menghadapinya, cucuran air mata, amarah dan ego sudah menjadi bumbu penyedap dalam rumah tangga kami selama setahun ini.

Setahun itu bukan waktu yang lama, masih panjang sekali perjalanan yang harus kami lalui. Dan tidak menutup kemungkinan jalan itu tak semulus jalan tol, masih banyak jalan yang terjal, berkelok dan berbatu yang harus kami lalui bersama untuk menuju sebuah kebahagian yang hakiki. Harapan saya dan Umi, semoga diberi kemudahan dalam melalui semua ujian_Nya dan diluluskan dengan nilai yang memuaskan.

Banyak hal baru yang belum pernah saya temui, kini menjadi sebuah rutinitas sehari hari. Apalagi saat Umi hamil, benar-benar menguras pikiran dan menjaga emosi. Dan Alhamdulillah sebentar lagi akan ada penghuni baru yang akan mengisi kehidupan kami. Mungkin ini adalah sebuah hadiah sekaligus kado terbesar yang diberikan Sang Kholiq buat kami di umur setahun pernikahan kami.

Bisa dibayangkan, kalau tiap pagi hanya ada nyanyian burung dibelakang rumah, sebentar lagi akan ada tangisan seorang bayi dirumah mungil kami. Hmm..rasanya sudah tak bisa berkata² lagi, begitu besar nikmat dan keindahan yang Engkau berikan kepada kami Yaa Robb.

Semoga Engkau selalu memberikan kekuatan kepada kami untuk selalu bersabar dan bersyukur terhadap apa yang Engkau ujikan kepada kami. Berikan kami kekuatan untuk selalu menjaga amanah_Mu dan karuniakanlah kami keturunan yang sholeh dan sholehah serta limpahkan kepada kami rezeki yang barokah dan bermanfaat. Amin

Maaf karena akhir-akhir ini saya jarang sekali nulis, tulisannya jadi mblepotan.
Kenangan 27 Oktober 2012 (untuk memperbesar gambar arahkan cursor pada gambar)

Ingin Punya Anak Berapa

Sumber gambar dari google



Ingin Punya Anak Berapa?

“Aku dan suami inginnya punya anak satu aja,” ucap seorang perempuan yang sedang duduk di depanku.

Aku mendelik, heran. “Satu aja? Kok bukan empat?”

Lama-lama kupandangi raut wajah perempuan yang sudah berkawan denganku sejak aku kecil itu. Tak ada ragu dalam ucapannya. Sebuah senyum tersungging di bibir tipisnya.

“Empat ‘kan rame?” lanjutku.

Bila misalnya Allah mengijinkan, aku ingin memiliki empat orang putra putri, yang nantinya akan memberi warna pada keluargaku. Ramai dan seru, pastinya! Seperti halnya orangtuaku yang telah melahirkanku dan ketiga saudaraku.

Salah satu alasan keherananku adalah kawanku ini merupakan keluarga besar. Ia sendiri tujuh bersaudara. Suaminya juga punya banyak saudara. Sepupunya juga banyak. Mengapa ia dan suami hanya ingin punya satu anak saja ya?

“Sekarang menjaga anak itu susah. Kami berencana punya satu anak saja dan berusaha fokus,” terangnya.

“Masing-masing anak ‘kan ada rejekinya ....” sahutku.

“Bukan soal rejeki, tetapi jamannya sekarang ini sudah sangat mengkhawatirkan. Bila punya banyak anak, orangtua belum tentu bisa mengawasi dan memberi mereka pendidikan yang baik. Kamu tau kan kisah adikku?”

Benakku memilah memori dan menemukan kisah yang santer terdengar tahun lalu, atau tahun sebelumnya lagi, tentang salah seorang adik lelakinya. Aku pun mengangguk. “Bagaimana kabarnya sekarang?”

“Dia divonis lima tahun.”

Aku termenung. Sejurus kemudian aku memaklumi kekhawatirannya. Kecemasannya akan masa depan anak. Keengganannya menelantarkan anak. Ketidakinginannya mengikuti jejak orangtuanya yang mempunyai banyak anak, namun tak semua dapat terawasi, sampai-sampai ada yang bermain-main dengan narkoba.

Usai bercakap-cakap tentang masa depan dan masa belakang, aku pun pamit.

“Semoga cepat ‘isi’, ya,” ucapku sambil ber-cipika-cipiki.

“Aamiin,” sahutnya.

Aku melangkah pulang menuju rumahku yang tepat berada di depan rumah kawanku itu. Aku terus terpikir tentang keinginannya memiliki satu anak. Berbagai alat kontrasepsi memang tersedia dan dapat dipilih oleh perempuan atau keluarga yang ingin mengatur kehamilannya. Mereka punya hak untuk memutuskan jalan yang mereka pilih, asalkan tidak menentang ketentuan-Nya. Dan aku tentu saja tidak punya hak untuk menghakimi apapun pilihan kawanku itu.

Bagaimana dengan Sahabat sekalian, ingin punya anak berapa? :D

Penulis Tamu : Kaka Akin



My Profil

Foto saya
Saya lahir, tumbuh, menghabiskan masa ABG di Jember dan sekarang saya mengais rejeki dengan menjadi seorang buruh di sebuah perkebunan di Banyuwangi. Motto dalam hidup saya "Jadikan Hidup Kamu Hari ini Lebih Baik Dari Hari Kemarin"

Post. Terbaru

Followers